Selasa, 10 Maret 2020

Motivasi Untuk Segala Keluh Kesah Penulis

Hai, kembali lagi bersama gue. Laila cantik. Ha ha ha.
Jangan lupa baca juga cerita yang gue tulis di wp @lailafazaa. Oke sip. Yuk kita simak pembahasan ini.

Okey, gue hari ini bakal membahas beberapa keluh kesah para penulis yang kadang suka curhat ke gue. Dan, gue jawab di sini. Ini juga ada beberapa motivasi sih.

Writer's block.
Sejauh ini, kalian tahu nggak apa itu writer's block? Nggak tau? Udah tahu? Oke, gue jelasin nih. Denger baik-baik. Menurut Wikipedia, writer's block atau kebuntuan menulis adalah sebuah keadaan ketika penulis merasa kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya. Mm menurut gue pribadi sih. Writer's block itu nggak ada gays. Hah, kok nggak ada? Iyalah! Yang ada itu cuma orang-orang yang malas aja. Soalnya ya, ya kalau dipikirin secara serius selama 7 hari 7 malam, eh nggak deng gue bercanda... Nggak mungkin lo pada tuh nggak punya ide. Lo punya ide. Cuma, lo itu males ngetik atau menulisnya. Nah di sini, lo harus cari cara gimana caranya supaya lo bisa bangkit dari rasa malas lo. Karena, gimana ya. Kalau nggak mau menulis atau ngetik itu jangan jadi penulis. Soalnya apa? Penulis itu nggak jauh-jauh dari itu. Tapi gimana ya, namanya waktu itu relatif. Yang gue pandang lama, bisa aja lo pandang singkat. Jadi, tergantung diri sendiri aja mau hiatus berapa lama. Mau ngaret berapa lama itu terserah lo. Yang penting, naskah lo tamat!

Mood.
Mood? Hmm apa itu mood? Mood dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah suasana hati. Lalu, apa sih suasana hati itu? Menurut Wikipedia suasana hati adalah suatu bentuk keadaan emosional. Munculnya berbeda dari emosi karena cenderung tidak spesifik, tidak intens, dan tidak selalu muncul oleh stimulus atau kejadian tertentu. Banyak banget yang ngeluh soal mood dalam menulis. Nggak mood nulis gegara ini lah, itu lah. Kalau untuk ngatasi ini. Ya gue cuma mau ngasih sarannya nggak jauh-jauh nyari motivasi sih. Kalau nggak lihat-lihat biografi penulis favorit lo kok bisa jadi naik daun gitu gimana ceritanya? Itu juga mungkin bisa memotivasi lo supaya hati lo tergerak buat semangat ngetik cerita tanpa diganggu sama si rasa malas ini. Ya pokoknya, jangan mau kalah sama rasa malas!

Alur ilang as buntu.
Biasanya nih, kalau alur buntu gitu penyebabnya bisa jadi karena kelamaan ngaret. Hayoh, siapa yang doyan ngaret pas ngetik? Jujur?!!! *gue padahal juga gitu. Ha ha ha* tapi setidaknya gue nggak pernah lupa alur. Soalnya gue selalu mencatat alur cerita seperti apa yang pengen gue tulis di catatan hp kalau nggak buku. Jadi, gue kalau mau buat 1 naskah itu biasanya gue udah mikir mateng-mateng gimana awal sampai ending. Biar gampang. Terus gue bikin plot biar nggak lupa. Kata Putrilagilagi, ini jalan satu-satunya biar nggak lupa alur. Dan terbukti sih, gue mau ngaret seberapa lama pun masih tetep bisa mengingat apa yang pengen gue ceritain pada waktu itu. Tapi, ini juga tergantung ingatan masing-masing sih. Karena setiap manusia itu pasti berbeda. Kemudian untuk kalian yang males buat plot. Kalian bisa rajin update setiap hari. Hal ini bisa memperkecil otak kalian ngelupain alur cerita yang akan kalian buat.

Ide suka muncul terus.
Nah, ini nih, ini. Seru juga. Gue kadang juga suka gitu kok. Jadi, santai, lo nggak sendiri gan. Nah kalau buat hal kayak gini itu sarannya. Apa ya??? Satu, lo bawa hp nggak ke mana-mana? Jaman milenial, nggak mungkin lo nggak bawa HP. Biasanya berak juga bawa HP, ha ha ha, nggak, bercanda. Nah, lo bisa simpan ide yang lo dapet di catetan hp lo. Ayolah, sekarang jaman udah canggih, kita juga harus bisa memanfaatkan teknologi yang ada sebaik mungkin. Kalau enggak, ya, lo bawa buku catetan kecil itu biar lo bisa mencatat ide lo yang tiba-tiba muncul. Soalnya, kita kan nggak tau di mana letak ide itu tumbuh. Dan, untuk orang yang kepikiran untuk nyelipin ide baru di cerita yang sama mulu. Mm, tunggu. Lo kan nggak akan hanya buat 1 naskah aja. Simpen ide lo, mungkin naskah baru lo lebih membutuhkan ide itu dibandingkan naskah yang satu ini.

Takut nggak bagus, nggak ada yang baca.
Kalau ini. Tergantung tujuan lo nulis aja. Kalau lo nulis untuk diri lo sendiri. Lo nggak butuh pujian dari orang lain. Lo seneng kalau diri lo suka sama cerita yang lo buat. Kalau lo nulis untuk orang lain, lo boleh takut. Karena di sini lo ingin menyenangkan mereka. Tapi, gimana ya. Pembaca itu bukan hanya satu. Selera mereka juga beda-beda. Ada yang suka sama cerita lo, suka banget, bahkan nggak bisa lupain cerita lo berbulan-bulan. Tapi, ada juga mereka yang sama sekali nggak suka sama cerita yang lo buat. Jadi, hal ini lagi-lagi masuk ke kata relatif sih. Tergantung prespektif orang lain aja.

Readers dikit or vote dikit.
Hayo... Mm gimana ya. Punya banyak pembaca sampe juta-jutanan. Ditawari penerbit mayor terbit lewat jalur undangan. Mejeng di toko buku dan jadi mega best seller. Dan difilmin sampai ditonton banyak orang emang menggiurkan banget sih. Tapi, eh kok ada tapinya sih? Kan sempurna banget tuh mimpinya kalau kenyataan. Tapi, pernah nggak sih lo pada sadar bahwa penulis yang baik itu adalah penulis yang menghargai karyanya sendiri? Ya gue tau, sekarang nembus mayor susah. Tenang, naskah gue juga udah pernah ditolak penerbit mayor kok. Sampai sekarang juga belum terbit naskahnya. Ha ha ha, ampun dah curcol gue. Tapi, seberapa pun pembacanya, votenya, komentarnya, semua itu wajib kita syukuri. Semuanya berawal dari nol sih. Berproses. Nggak ada yang langsung tinggi gitu aja. Tapi, yang namanya manusia mana tau sih takdirnya kayak apa? Ya meskipun rezeki itu adalah takdir yang bisa diubah. Tapi ya tetep aja, Allah (Tuhan) adalah perancang skenario terbaik di dunia ini. Lo pengen readers banyak. Tapi tulisan lo aja masih acak-acakan belum bener. "Ya nggak papa dong, namanya juga masih belajar!" Hell!!! Gatel tau nggak kalau baca cerita banyak typonya. Tanda bacanya aja masih banyak yang salah. Huruf kapitalnya banyak yang salah tuh rasanya kesel gais. Yakin deh. Ini kalau yang baca author yang udah tau gimana penulisan yang tepatnya. Kalau yang belum mah, mereka bakal enjoy. Kenapa gue berani ngomong gitu? Karena gue sendiri mengalami hal kayak gitu. Ya bukannya sok pinter atau sok tahu soal kepenulisan yak. Tapi bener loh,rasa gemes ples kesel saat baca cerita yang tulisannya morak-marik. Yang baca datang atau pergi itu tergantung dari cerita kita dan selera mereka. Jadi jangan menyerah, jangan karena yang baca dikit lo nyerah. Jangan. Lo nggak tau gimana penulis besar sebelumnya namanya bisa besar karena apa. Pokoknya, apa yang kita usahakan itu pasti akan menemui hasil. Tapi kan, nggak semua orang berhasil dalam waktu yang sama. Jadi, tetaplah semangat untuk menulis.

Udah deh, itu aja ya. Dadah. Semoga bermanfaat.
Mohon maaf kalau aku sok tahu ya:(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Zakat Fitrah dan Mukjizat Al-Qur'an.